Bookmark and Share
Friday, 24 May 2013   15. Rajab 1434
Berita Terkini
Foto-Foto MAJLIS DZIKIR, MAULIDURRASUL SAW & HAUL ... » ... telah kami muat-naik kan ke Arkib Media ... Dapatkan berita mengenai majlis-majlis Al Khidmah »  ... Isikan email anda di sudut 'Subscribe Mailing List' hari ini ....                       Innalillahi wainna Ilaihi Raji'un » ... Telah berpulang ke Rahmatullah Hadrotussyaikh Romo Kiai Asrori Al-Ishaqi tadi malam, 18 Agustus 2009 pukul 02.30..

Video Majlis-Majlis Al Khidmah

Home Rencana MASYARAKAT ARAB PRA-ISLAM

MASYARAKAT ARAB PRA-ISLAM

E-mail Print PDF

Sebagaimana kita ketahui dalam sejarah, sebelum Islam masuk ke Jazirah Arab, di daerah tersebut sudah muncul berbagai kebudayaan yang telah dipelopori oleh orang-orang arab jahiliah. Sebelum datang agama Islam, mereka telah mempunyai berbagai macam kepercayaan, adat istiadat dan peraturan-peraturan hidup. Agama baru ini pun datang membawa akhlak, hukum-hukum dan peraturan-peraturan hidup. Jadi agama baru ini datang kepada bangsa yang bukan bangsa baru. Maka bertemulah agama Islam dengan agama-agama jahiliah, peraturan-peraturan Islam dengan peraturan-peraturan bangsa Arab sebelum Islam.

Polah Kepercayaan


Bangsa Arab adalah salah satu dari bangsa-bangsa yang telah mendapat petunjuk. Mereka mengikuti agama Nabi Ibrahim, setelah Nabi Ibrahim melarikan diri dari kaumnya yang hendak membakarnya dengan api, kerana beliau mengingkari dan melawan dewa-dewa mereka. Tetapi setelah mengikuti agama Nabi Ibrahim, mereka kembali lagi menyembah berhala. Berhala itu mereka buat dari batu dan ditegakkan di Ka’bah. Dengan demikian bercampuraduklah agama Nabi Ibrahim dengan kepercayaan watsani (penyembah berhala), dan hampir-hampir kepercayaan watsani itu dapat mengalahkan agama Nabi Ibrahim, atau benar-benar agama Nabi Ibrahim telah kalah oleh kepercayaan watsani.1


Pada dasarnya bangsa Arab pra-Islam telah percaya kepada Allah SWT sebagai pencipta. Hal itu dapat dibuktikan dari keterangan yang terdapat pada [Q.S. Luqman: 25]: "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah." Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." Dan juga keterangan yang terdapat dalam [Q.S. al-Ankabut: 63]: "Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya)."


Masyarakat Arab pada waktu itu terpecah menjadi dua kelompok. Pertama, adalah mereka yang masih taat dalam ajaran agama tauhid, terutama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di Jazirah Arab. Mereka inilah yang disebut sebagai penganut agama hanif sebagaimana yang telah diterangkan pada (Q.S. Ali Imran: 67):

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ. (آل عمران/67)

"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." Yang dimaksud lurus disini bererti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah SWT) dan jauh dari kesesatan. Kedua, adalah mereka yang melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap agama tauhid dengan menyekutukan Allah SWT. Sebagaimana keterangan dalam [Q.S. al-Zumar: 3]: "Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar." Mereka menyekutukan Allah SWT dengan menyembah patung dan berhala. Mereka berkata; "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." Dan kelompok kedua inilah sebagai kelompok yang banyak pengikutnya pada waktu itu.2

 



Dari Agama Nabi Ibrahim Ke Kepercayaan Watsani


Ibnu Ishaq berkata bahwa orang yang pertama kali mengubah agama Nabi Ismail AS dan beralih menyembah berhala adalah 'Amr bin Luhai. Hal itu sebagaimana keterangan dari Rasulullah SAW ketika berkata kepada Uktsum bin al-Jaun al-Khuza'i: "Wahai Uktsum, Aku melihat 'Amr bin Luhai menarik tongkatnya di neraka. Aku tidak melihat seorang laki-laki yang lebih mirip dengannya dari pada kamu." Uktsum berkata: "Apakah kemiripanku dengannya dapat membahayakanku wahai Rasulullah?" Maka Rasulullah bersabda: "Tidak, engkau mukmin, sedangkan dia kafir. Dia adalah orang yang pertama kali mengubah agama Nabi Ismail AS, kemudian membangun berhala."


Ibnu Hisyam berkata bahawa 'Amr bin Luhai pada suatu hari keluar dari Makkah menuju Syam. Ketika sampai di kota Ma'ab yang termasuk dalam kawasan Balqa' yang dikuasai oleh kaum Amaliq (mereka adalah keturunan 'Imlaq atau yang dikenal dengan sebutan 'Imliq bin Lawud bin Sam bin Nuh), ia melihat penduduk 'Amaliq menyembah berhala. Kemudian ia berkata kepada mereka: "Berhala apa yang kalian sembah?" Mereka berkata: "Berhala-berhala yang kami sembah inilah, ketika kami meminta hujan, maka dia memberi kami hujan dan ketika kami meminta pertolongan kepada mereka, maka mereka menolong kami." Lalu 'Amr bin Luhai berkata kepada mereka: "Adakah kalian memberi aku satu berhala di antara mereka, agar aku bisa melanjutkan perjalannku ke tanah Arab, agar orang-orang menyembah berhala?" Kemudian mereka memberi 'Amr bin Luhai satu berhala yang bernama Hubal. Ketika ia sampai di Makkah, ia memasang berhala itu dan memerintah orang-orang untuk menyembah dan mengagungkannya.3


Faktor-faktor lain yang menyebabkan bangsa Arab akhirnya menyembah berhala dan batu diantaranya ialah ketika mereka meninggalkan kota Makkah, mereka selalu membawa sebuah batu. Mereka mengambil batu-batu yang ada di sekitar Ka’bah, dengan maksud untuk menghormati Ka'bah itu, dan untuk memperlihatkan cinta mereka terhadap kota Makkah. Kemudian ketika mereka telah menetap di suatu wilayah tertentu mereka meletakkan batu-batu itu kemudian melakukan thawaf mengelilingi batu-batu itu seperti ketika mereka mengelilingi Ka'bah.4 Dengan demikian jelaslah sudah betapa agama Nabi Ibrahim telah bercampuraduk dengan kepecayaan Watsani.


Berhala-Berhala Yang Disembah Orang-Orang Arab.

Di antara berhala-berhala terpenting yang disembah oleh bangsa Arab, ialah:

  • Hubal. Hubal ini diperbuat dari batu akik berwarna merah, berbentuk manusia. Iaitu dewa mereka yang terbesar. Dia diletakkan di Ka’bah. Menurut Ibnu Ishaq, Hubal adalah berhala yang diambil orang-orang Quraisy dari sumur yang berada di dalam Ka'bah.5

  • Al-Lata, tempatnya di Thaif. Menurut Tsaqif (penduduk Thaif), al-Lata ini adalah berhala yang paling tua.

  • Al ‘Uzza, tempatnya di Hejaz. Kedudukannya sesudah Hubal.

  • Manah, tempatnya di dekat kota Madinah. Manah ini dimuliakan oleh penduduk Yatsrib.

Untuk mendekatkan diri kepada berhala-berhala itu, orang-orang Arab mempersembahkan korban-korban dari binatang ternak. Bahkan pada suatu ketika pernah pula mereka mempersembahkan manusia sebagai korban kepada berhala-berhala itu.6

Mereka juga biasa mengadu nasib dan melihat peruntungan kepada berhala-berhala itu. Bilamana sesaorang hendak mengerjakan suatu pekerjaan yang bererti, umpamanya hendak berpergian, atau melangsungkan pernikahan, maka pergilah ia ke Ka’bah untuk bertenung dan melihat pendapat dewa-dewa mereka terhadap pekerjaan itu. Yang menjadi juru tenung ialah penjaga-penjaga Baitullah.


Di samping pemujaan kepada berhala-berhala, agama-agama ketuhanan sebenarnya pernah memasuki Jazirah Arab sebelum agama Islam datang. Seperti raja Yaman yang bernama Zu Nuas yang telah memeluk agama Yahudi. Zu Nuas menerima agama Yahudi dari orang-orang Yahudi yang berpindah ke Yaman. Selain itu, di Yatsrib, Khaibar, Wadil Qura dan lain-lain juga terdapat orang-orang yang beragama Yahudi. Mereka mungkin berasal dari Palestina, atau mereka adalah bangsa Arab yang telah memeluk agama Yahudi.


Agama Masehi juga sebenarnya pernah masuk ke Jazirah Arab, sebagaimana yang telah dianuti oleh kaum Masehi Najran yang dimusnahkan oleh Zu Nuas. Di Ghassan ada kaum Masehi, demikian pula di Yaman waktu negeri Yaman di bawah pemerintahan bangsa Habsyi. Agama Masehi datang ke Jazirah Arab melalui Syiria, Mesir dan Habsyi.


Agama Yahudi dan Masehi tidaklah tersebar secara berleluasa di tanah Arab. Hal itu disebabkan adanya diskiriminasi yang terdapat dalam agama Yahudi. Menurut bangsa Yahudi, Yahudi adalah agama dari "suatu bangsa yang pilihan". Sesungguhnya jika seorang Arab telah menganut agama Yahudi, namun dia tidak akan mendapat hak yang sama dengan seorang Yahudi keturunan Yahuda. Oleh kerana itu bangsa Arab tidak rela untuk memeluk suatu agama yang akan menempatkannya pada suatu darjat yang hina, di bawah darjat para penyeru agama itu sendiri. Sedangkan agama Masehi, keadaannya telah dipenuhi oleh kepercayaan-kepercayaan yang kalut, yang sukar difahami oleh bangsa Arab. Ini juga dipenuhi oleh perselisihan yang sengit, yang mengakibatkan persoalan agama itu sendiri menjadi kabur, dan menjadikan orang-orang Arab yang ingin menganut agama itu akhirnya jadi berpaling daripadanya.7


Kebudayaan

Karya sastra pada zaman jahiliah menggambarkan keadaan hidup masyarakat dikala itu, di mana mereka sangat fanatik dengan kabilah atau suku mereka, sehingga syair-syair yang muncul penuh dengan kebanggaan terhadap kabilah masing-masing. Begitu juga dengan khutbah yang kebanyakan berfungsi sebagai pembangkit semangat berperang membela kabilahnya. Namun demikian karya-karya sastra pada zaman jahiliah itu, juga tidak luput dari nilai-nilai positif yang dipertahankan oleh Islam seperti hikmah dan semangat berjuang. Hampir seluruh syair-syair dan khutbah pada masa jahiliah diriwayatkan dari mulut ke mulut kecuali yang termasuk dalam al-Mu’allaqat, hal ini kerana masyarakat jahiliah tidak biasa dengan budaya tulis menulis. Pada umumnya syair-syair jahiliah dimulai dengan mengenang puing-puing keruntuhan masa lalu yang telah hancur, berbicara tentang haiwan-haiwan yang mereka miliki dan menggambarkan keadaan alam tempat mereka tinggal. Beberapa kosa kata yang terdapat dalam karya-karya sastra jahiliah sulit difahami kerana sudah jarang dipakai dalam bahasa arab saat ini.8 Pada zaman jahiliah ini terdapat beberapa jenis Natsr, diantaranya:

  1. Khutbah, iaitu serangkaian perkataan yang jelas dan mudah, yang disampaikan kepada khalayak ramai dalam rangka menjelaskan suatu perkara penting.

  2. Wasiat, iaitu nasihat seorang yang akan meninggal dunia atau akan berpisah kepada seorang yang dicintainya dalam rangka permohonan untuk mengerjakan sesuatu. Wasiat memiliki banyak persamaan dengan khutbah hanya saja umumnya wasiat lebih ringkas.

  3. Hikmah, iaitu kalimat ringkas, menyentuh yang bersumber dari pengalaman hidup yang dalam. Di dalamnya terdapat buah fikiran yang mudah difahami dan nasihat yang bermanfaat.

  4. Matsal, iaitu kalimat singkat yang diucapkan pada keadaan atau peristiwa tertentu yang digunakan untuk menyerupakan keadaan atau peristiwa tertentu dengan keadaan atau peristiwa asal di mana matsal tersebut diucapkan.

  5. Syair.

  6. Al-Mu'allaqat, iaitu qasidah panjang nan indah yang diucapkan oleh para penyair jahiliah dalam berbagai kesempatan dan tema. Sebahagian al-Mu’allaqat ini diabadikan dan dilekatkan di dinding-dinding Ka’bah pada masa Jahiliah. Dinamakan dengan al-Mu’allaqat (Kalung) kerana indahnya syair-syair tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan pada seorang wanita.9


1 A. Syalabi, "Sejarah Bangsa Arab Sebelum Islam", dalam http://members.tripod.com



2 Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Rosda, 2007), 39-40.


3 Ibnu Hisyam, al-Sairah al-Nabawiyah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2001), 35.


4 Ibid.


5 Ibid., 37.


6A. Syalabi, "Sejarah Bangsa Arab Sebelum Islam".


7 Ibid.


8 Ichsan Mufti, "Sejarah Perkembangan Sastra Arab Jahiliyah" dalam http://www.ichsanmufti.wordpress.com (4 Desember, 2006)



9 Al-Qalqasynady, Subh al-A'sya, Juz: 5,355.